Di sisi lain, sebagaimana di uraikan oleh M. Dawam Rahardjo, kalangan liberal-progresif miskin pengembangan pemikiran Islam alternatif. Model dualisme keberagaman seperti ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia dan di Agama Islam saja, tetapi juga menggejala di beberapa negara maju seperti Australia, New Zeland, dan beberapa Negara Eropa Lainnya.
Gary D Bouma (Sosiolog Monash University, dan Pimpinan UNESCO untuk hubungan Antar Agama dan Antar Budaya Asia Pasifik) mengatakan: manakala absolutisme dan ekslusivisme beragama merangsek ke ruang publik, temperatur teologi liberal malah menurun dan kehilangan daya artikulasinya.
Kegelisahan itulah yang kemudian ditanggapi secara serius, setidaknya buku ini merepresentasikan bagaimana sebenarnya gerakan liberal-progresif melihat kecenderungan yang keberagamaan di Indonesia. Para pemikir Islam Progresif kembali menegaskan menganai daya artikulasi yang tidak pernah mati dalam melihat dan memberikan alternatif-alternatif pandangan Islam di Indonesia.
Kegelisahan tersebut diterbitkan oleh LSAF melalui buku Pembaruan Pemikiran Islam Indoneisa, buku ini merupakan hasil diskusi dan workshop mengenai pembaruan Islam Indonesia. Kini buku tersebut kehadiran pembaca yang budiman.


0 komentar:
Posting Komentar